Thursday, 3 April 2014

Sumber-Sumber Akhlak dan Tasawuf

BAB II
PEMBAHASAN

  A.    Sumber-Sumber Akhlak dan Tasawuf

Perlu diberikan penjelasan lebih dahulu mengapa kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits dijadikan dasar pokok ajaran Islam. Seperti diketahui, umat Islam memahami dan meyakini agama Islam sebagai agama “wahyu”. Artinya ajaran agama Islam dibangun dan didasarkan dari hasil pemikiran, penalaran, perenungan dan semacamnya, melainkan berdasar "wahyu". Wahyu dipahami dan diyakini umat Islam secara keseluruhan sebagai kalam Allah SWT (Ucapan Allah SWT) yang tersalurkan pesan-pesan yang dimuat di dalamnya kepada umat manusia lewat perantaraan utusan Allah SWT. Kalam Allah SWT ini tidak pernah diintervensi (dicampuri) oleh manusia dalam hal ini para utusan Allah SWT, baik dari segi substansi materi maupun instrument kebahasaannya. Begitulah yang diyakini oleh umat manusia secara keseluruhan sepanjang kesejarahannya. Sementara itu, penjelas dalam rangka implementasi konkret kalam Allah SWT tersebut dalam kehidupan nyata sehari-hari umat manusia, utamanya umat Islam, maka pada ucapan, perbuatan dan persetujuan (taqrir) utusan Allah SWT dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW, yang disebut al-Hadits. Secara ringkas, al-Hadits merupakan jabaran fungsional-praktikal dari al-Qur'an yang menyebabkan al-Qur’an jadi living (hidup) dalam praktek kehidupan, terutama pada masa Rasulullah SAW hidup. Sementara itu pula metode dan prosedur untuk memahami muatan al-Qur’an disebut ilmuTafsir.
Oleh karena ajaran Islam memiliki dasar pokok berupa Qur’an dan al-Hadits, maka dengan sendirinya Akhlak Tasawuf yang menjadi bagian dari hasil pemahaman terhadap ajaran Islam itupun sumbernya juga harus dari al-Qur’an dan al-Hadits.

1.      Sumber dari Al-Qur’an dan Hadits tentang Akhlak

1.1Sumber dari Al-Qur’an 

Dalam al-Qur’an kata yang berkaitan dengan akhlak diantaranya adalah surat as-Syu’ara’ ayat 137, yang berbunyi:
إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ
Artinya:”(Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang dahulu.”
Lalu dalam surat al-Qalam ayat 4 berbunyi:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya:”Sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang berakhlak sangat mulia.”

Dua ayat ini, baik dilihat dari asal kata dan muatan kata, dapat dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa istilah akhlak memang terdapat dalam al-Qur’an. Hanya saja bila dilihat dari konteks ayat, terdapat perbedaan muatan akhlak di dalamnya. Dalam surat as-Syu’ara ayat 137 istilah akhlak diartikan sebagai “adat kebiasaan buruk” dari seorang umat nabi Hud AS., sedangkan istilah akhlak yang termuat dalam surat al-Qalam ayat 4 adalah dalam konteks budi pekerti yang agung atau luhur” dari sosok nabi Muhammad SAW. Berdasarkan keterangan tersebut, maka akhlak dapat disebut “akhlak yang baik” dan juga disebut “akhlak yang buruk”
1.2  Sumber dari Hadis
Adapun hadis yang menjelaskan tentang akhlak antara lain:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ (مسند أحمد)
‘Aisyah – semoga Allah meridhainya – berkata, “Aku mendengar Nabi – shallallaahu ‘alaihi wassalaam – berkata, sungguh orang-orang yang beriman dengan akhlak baik mereka bisa mencapai (menyamai) derajat mereka yang menghabiskan seluruh malamnya dalam sholat dan seluruh siangnya dengan berpuasa.” [Musnad Imam Ahmad]
Kemudian dalam riwayat Tirmidzi juga rasulullah pernah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا (الترمذى)
“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah ia yang memiliki akhlak terbaik. Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya kepada pasangannya.” (Hadits riwayat Tirmidzi)





2.      Sumber dari Al-Qur’an dan Hadis tentang Tasawuf

2.1 Sumber dari Al-Qur’an
Istilah tasawuf secara eksplisit kebahasaan tidak pernah disebut dalam al-Qur’an. Sebagian besar ulama tasawuf sepakat bahwa masalah tasawuf tersebut secara implisit (tersirat) dan termuat dalam istilah “zuhud”. Sementara itu istilah zuhud (yang berarti orang yang tidak merasa tertarik terhadap sesuatu), hanya terdapat satu kali ditulis dalam al-Qur’an yaitu dalam surat Yusuf ayat 20:
وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُواْ فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ
Artinya: Dan mereka menjual yusuf dengan harta yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka (anggota kafilah dagang) itu tidak merasa tertarik hati mereka terhadapnya (Yusuf).
Dari cara penelusuran payung ayat seperti di atas, maka banyak konsep dalam ajaran Tasawuf (yakni ajaran tasawuf yang telah disistem menjadi sebuah disiplin ilmu fann al-‘ilm) yang dicari-carikan paying ayatnya dalam al-Qur’an, sekedar contoh yang dikutipkan dari beberapa kata kunci mengenai maqam (terminal ruhani), antara lain kata-kata kunci: taubat, sabar, faqr, zuhud, tawakkal, mahabbah, ma’rifah, ridha dan sebagainya.
Kata kunci “taubat” antara lain di dasarkan pada Surat al-Baqarah ayat 222:
إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya : . . . .Seseungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan Dia menyukai orang-orang yang menyucikan diri.
Kata kunci “sabar” antara lain didasarkan pada surat al-Mu’min atau Ghafir ayat 55 yang berbunyi:
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ
Artinya: Maka bersabarlah engkau, karena sesungguhnya janji Allah itu benar.....
Kata kunci “Faqr”' dikaitkan dengan surat Thaha ayat 2:
مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى
Artinya: Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar menjadi sengsara.
Kata kunci “tawakkal” dikaitkan dengan surat ath-Thalaq ayat 3 berbunyi:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: ....dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Kata kunci “mahabbah” dikaitkan antara lain dengan surat Ali Imran ayat 31
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan Dia akan mengampuni dosa-dosamu....” Kata kunci “ma’rifah” dikaitkan antara lain dengan surat Qaf ayat 16:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya: Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat dengannya daripada urat lehernya.
Yang terakhir kata kunci “ridla” dikaitkan dengan surat al-Maidah ayat 119:
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: ....Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya; itulah keberuntungan yang sangat besar.
Mencermati contoh-contoh ayat di atas, maka dalam peristilahan maqam ada beberapa kata kunci yang dari asal kata-katanya memang dapat dirujukan pada al-Qur’an, seperti kata kunci “taubat” (Surat al-Baqarah ayat 222), “sabar” (Surat al-Mu’min/Ghafir ayat 55), “zuhud” (Surat Yusuf ayat 20), “tawakkal” (Sura at-Thalaq ayat 3), “mahabbah” (Surat Ali Imran ayat 31), “ridla” (Surat al-Maidah ayat 119). Sementara itu kata kunci “faqr” (Surat Thaha ayat 2) dan kata kunci “ma’rifah” (Surat Qaf ayat 16) dipahami secara implisit terhadap muatan pesan ayat-ayat tersebut.
Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Tasawuf diantaranya Q.S. Al-Ahzab ayat 41-42, Q.S Al-Baqarah ayat 185, Q.S Al-Baqarah ayat 115.

2.2 Sumber dari Hadits
Selain ayat ayat Al-Qur’an di atas, terdapat juga Hadits-hadits yang menerangkan untuk selalu mendekatkan diri pada Allah, mencintai-Nya dan selalu berdzikir kepada-Nya. Diantara nya adalah:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Artinya: “Barangsiapa yang mengetahui dirinya sungguh  ia mengetahui Tuhannya”.

كُنْتُ كَنْزًا مُخْفِيًافَاَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَبِيْ عَرَفُوْنِ.
Artinya: “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi kemudian aku ingin di kenal, maka Aku ciptakanlah makhluk dan melalui Aku merekapun mengenal pada-Ku”. (Hadits Qudsi)

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَال: قَال رَسُوْلُ الله صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَنْدِي بِي وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكُرُنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِهِ وَاِنْ ذَكَرَ نِي فِيْ مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ هُمْ خَيْرُ مِنْهُ وَاِنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًاتَقَرَّبْتُ اِلَيه ذِرَاعًا وَاِنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ ذِرَاعًا اِقْتَرَبَ اِلَيه بَاعًا وَاِنْ اَتَنِس مَاشِيًا اَتَيْتُهُ هِرْوَلَةً. رواه مسلم
Artinya : “Dari Abi Hurairah ra. Beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Berfirman Allah Maha Mulia dan Maha Agung: “Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku pada diri-Ku dan Aku besertanya di kala ia menyebut asma-Ku. Apabila ia menyebut-Ku pada dirinya secara sirri, maka Akupun akan menyebutnya dengan pahala dan rahmat secara rahasia. Andaikata ia menyebut-Ku pada suatu perkumpulan, maka Akupun akan menyebutnya pada suatu perkumpulan yang lebih baik. Dan anadaikata ia mendekat pada-Ku dengan sejengkal, maka Aku akan menyebutnya dengan satu elo (dari siku sampai ujung jari) selanjutnya bila ia mendekat pada-Ku satu elo, maka Aku dekati ia sehasta. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang padamu dengan cepat-cepat”.(H.R.Muslim)

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَال: قَال رَسُوْلُ الله صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم اِنَّ اللهَ تَعَال قَال مَنْ عَادَلِي وَلِيًّا فَقَدْ اَذَنْتُهُ بِالحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ اِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَئٍ اَحَبَّ اِلَيَّ مِمَّاافْتَرَضْتً عَلَيه وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ اِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّي اَحِبَّهُ فَإِذَ اّحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يُبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لاَاَعْطَيْتُهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ. رواه البغاري.
Artinya:”Dari Abi Hurairah ra., berkata:”Rasulullah SAW.,:”Sesungguhnya Allah telah berfirman “siapa yang memusuhi seorang kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang padanya. Dan tiada mendekat kepada seseorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Kusukai daripada menjalankan kewajibannya dan selalu seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan melakukan sunah-sunah, sehingga Kusikai, maka apabila Aku telah mengasihinya, Akulah yang menjadi pendengaran dan penglihatannya, sebagai tangan yang dipergunakannya dan kaki yang dijalankannya dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Kukabulkan dan jika berlindung kepada-Ku pasti Kulindungi”.(H.R Bukhori).


Demikian ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits rasulullah SAW. Yang kami nukil sebagian untuk menguatkan keterangan bahwa tassawuf tumbuh dan berkembang dari pengaruh ajaran islam itu sendiri.
Reactions:

0 comments: